Fobia Sang Angin (1)

Cheongomabi.

Artinya langit yang tinggi dan kuda yang menjadi gemuk. Istilah Cheongomabi memang tepat untuk menggambarkan musim gugur disini. Di musim ini, langit sangat biru dan bersih, sehingga menjadi waktu yang tepat bagi kebanyakan orang untuk bertamasya dengan keluarga atau teman di taman seperti Taman Seonyudo yang tidak jauh dari sini. Musim ini juga merupakan musim panen sehingga banyak makanan untuk dimakan seperti buah persik dan jujube serta apel yang kubawa saat ini. Memakan apel sembari menikmati pemandangan sungai Han dari atas jembatan di musim gugur. What a perfect combination.

Jembatan Yanghwa, itulah nama jembatan ini. Jembatan kokoh yang sering dilalui banyak kendaraan, dengan pagar pembatas berwarna perak dan jalan setapak yang disusun dari ribuan balok kayu berwarna cokelat ini dibangun di atas membelah sungai Han. Jembatan ini selalu menjadi tempat favorit aku untuk menyendiri walaupun sedikit berisik karena kendaraan berlalu-lalang di atas jembatan ini. Selain berada di atas sungai Han dan dekat dengan Taman Seonyudo, tempat ini juga menjadi tempat yang bagus untuk melihat matahari terbenam. I’m the one of those who love sunset. Pemandangan langit sore berwarna jingga bisa menenangkan pikiranku yang seringkali mumet karena berbagai macam masalah seperti tesis yang sedang kukerjakan saat ini. Menjadi mahasiswa lagi setelah mendapat gelar sarjana tiga tahun lalu membuat aku harus menyesuaikan lagi dengan jadwal yang mengekang dan tugas yang menumpuk ditambah lagi berada di negara yang asing ini membuat penderitaan ini terasa sempurna.

Tapi ini adalah salah satu impianku sejak lulus kuliah tiga tahun lalu. Mendapat gelar magister di KAIST. Salah satu kampus terbaik dalam bidang sains dan teknologi. Mendapat beasiswa di KAIST ini bukan perkara mudah, butuh satu tahun perjuangan untuk mendapatkannya sampai akhirnya setahun lalu aku bisa kuliah disini. Korea Selatan.

Kampus utama KAIST ada di Daejeon, sekitar dua jam dari Seoul kalau naik KTX dari Stasiun Seoul dan masih disambung bis nomor 802 untuk sampai disana. Di tahun pertama, aku harus tinggal di Daejeon agar tidak terlambat. Namun, enam bulan terakhir ini akhirnya aku tinggal di Seoul karena jadwal kampus yang sudah tidak terlalu padat dan hanya fokus untuk menyelesaikan tesis. Pada awalnya, aku bisa dua hingga tiga kali ke sana dalam seminggu untuk mengambil data keperluan tesisku. Namun, dalam dua bulan terakhir, aku dibantu Jo Jiwon, seorang mahasiswa setara strata satu disana yang menawarkan diri untuk membantu mengambil data disana dan mengirimkannya padaku lewat e-mail dengan imbalan dia bisa belajar dariku tentang mata kuliah yang tidak dia pahami.

Di Seoul, aku tinggal di gedung apartemen yang sama dengan salah satu orang Indonesia yang aku kenal dari Perpika, Persatuan Pelajar Indonesia di Korea. Namanya Riko. Dia kuliah instrumental music di Seoul National University. Dia tinggal di Seoul sudah hampir tiga tahun. Selain kuliah, dia juga mempunyai band kecil bersama teman kuliahnya dan biasa manggung di kafe-kafe Seoul. Ketika kutanya alasannya di suatu waktu, dia menjawab,

“Kak Bara harus tahu, selain aku bisa dapat tambahan uang buat sehari-hari, di kafe-kafe itu banyak banget cewek-cewek yang cantik. Dengan melihat aku tampil bermusik, mereka bisa dengan mudah jatuh hati dengan aku. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui,” jawabnya dengan gaya sok keren. Aku yang mendengar jawaban itu hanya bisa menggeleng kecil. Jawaban itu juga menjelaskan kenapa dia bisa membawa perempuan yang berbeda ke apartemennya hanya dalam selang beberapa hari.

“Asal kau tidak kena masalah saja nantinya,” peringatku yang disambut dengan tawanya.

Tapi bukan tesis yang menyebabkan aku rela jauh-jauh pergi dari apartemenku dan menyewa sepeda di tempat penyewaan sepeda milik Kakek Ilsub untuk menyendiri di atas jembatan ini. Beberapa jam yang lalu, Rian, salah satu teman dekatku dari SMA menelponku via Skype.

Hey, bro, gimana kabar lo disana?” sapanya.

“Baik. Baik banget bahkan,” jawabku dengan tersenyum sedikit.

“Lagi ngapain lo? Kok gue lihat lo cuma di apartemen? Ngga jalan-jalan kemana gitu lo? Gue denger musim gugur disana bagus buat jalan-jalan.”

“Ah, iya. Gue lagi di apartemen. Lagi baca buku buat referensi tesis gue,” ujarku sembari memperlihatkan sekilas buku yang sedang kupegang.

Dia tertawa sebentar, “Orang pintar mah gitu ya. Belajar terus kerjaannya. Ngga peduli musim di luar. Jangan keseringan lo belajarnya, dari sini aja gue bisa lihat lo udah mulai kebotakan gara-gara keseringan belajar.”

“Sialan lo,” yang disambut dengan tawa kami berdua. “Eh, gue lihat lo ngga lagi di rumah lo, deh. Di rumah siapa lo?”

“Lah, tahu dari mana lo kalau gue lagi ngga di rumah?”

“Ya, jelaslah. Bokap lo yang demen warna hijau muda sampai ngecat seluruh dinding rumah lo jadi warna hijau muda. Nah, itu dinding di belakang lo warna putih.”

Dia tertawa lagi, “Iya, ya. Begini. Gue lagi di rumah Fila,” Fila adalah junior dua tahun di bawah kami ketika di SMA dan merangkap sebagai pacarnya Rian. Mereka jadian setelah acara graduation angkatan kami dulu. Rian mulai suka Fila sejak melihat Fila jadi konduktor paduan suara sekolah kami di salah satu ajang nasional paduan suara. In coincidence, Fila juga yang menjadi konduktor untuk paduan suara yang mengiringi acara graduation angkatan kami. Setelah acara graduation selesai, Rian diam-diam ‘nembak’ Fila. Tahu dari mana? Karena setelah kejadian ‘nembak mendadak’ itu, Rian langsung cerita ke aku.

“Mampus gue, Bara. Mampus beneran,” ujarnya dengan wajah ketakutan.

“Kenapa lo?” tanyaku sambil memberi sebotol air mineral. “Nih, minum dulu.”

Setelah beberapa tegukan dan hela nafas, Rian berusaha tenang, “Gue abis ‘nembak’ Fila,” Surprised is my first reaction.

How?

“Ya, gue hanya bilang ke dia kalau ada yang mau gue bilang ke dia. Pas suasananya agak sepi, gue langsung ‘tembak’ dia.”

A little bit wrong move to express your feel, dude.

“Sialan lo.”

Then? Dia jawab apa?”

“Dia belum jawab. Dia minta waktu buat mikir dulu. I think she still shocked.”

Yeah, absolutely. No doubt.

Fortunately, she said yes after thinking and considering for a couple days. Itu juga yang menghilangkan rasa was-was Rian selama beberapa hari itu. Belakangan baru diketahui bahwa Fila memang suka Rian bahkan sebelum Rian ‘nembak’ dia. Terlepas dari kejadian itu, mereka memang pasangan serasi dan terbukti bisa bertahan sampai sekarang.

“Wah ngapain lo di rumah dia? Jangan lo apa-apain anak orang, woy,” ledekku sambil tertawa kecil.

“Wah, sialan lo. Gue anak baik-baik, ya. Masa ke rumah pacar sendiri ngga boleh. Orang tuanya Fila pergi ke Jogja, jadi gue kesini untuk temenin dia.”

“Terus dimana Fila?”

“Sebentar,” aku melihat kamera Rian bergoyang karena Rian berjalan menuju suatu tempat. “Nih, sayang. Ada yang nyariin,” Fila muncul di layar laptopku sembari memegang spatula, “Eh, kak Bara. Gimana kabar di Korea?”

“Baik, Fila. Wah, lagi masak nasi goreng, ya?”

“Iya, kak. Buat teman kakak yang satu ini,” she’s acting cute to point at Rian.

“Wah, nemenin kamu tapi minta imbalan nasi goreng. Pacar macam apa coba?” ujarku yang disambut tawa Fila.

“Eh, sayang, kamu dulu yang bicara sama kak Bara. Nasi gorengnya udah mau selesai soalnya.”

Wajah Rian kembali muncul di layar laptopku, “She’s great, right? Mau masakin pacarnya yang tiba-tiba datang begini,” Rian kembali duduk di tempatnya semula dan meletakkan smartphonenya di atas meja.

“Jadi ada apa lo tiba-tiba video call gue? Via Skype pula. Biasanya cuma chatting di LINE kalo ada apa-apa,” tanya gue.

Raut wajah Rian tiba-tiba menjadi serius. “Begini, ada yang harus gue omongin dan gue mau lo jadi orang pertama yang tahu dari sekian teman-teman gue,” aku langsung meletakkan buku yang kupegang dan fokus di layar laptopku. “Jadi, minggu depan akan ada acara lamaran gue ke Fila.”

Same surprise reaction that I showed ketika aku mendengar Rian ‘nembak’ Fila di acara graduation dulu, “Woah, congratulation, bro. Akhirnya, lo bakal halalin juga Fila. Selamat, bro.”

Well, thanks, bro.” Fila pun muncul di layar laptopku sambil membawa sepiring nasi goreng yang langsung disambar oleh Rian. Setelah makan satu suap, senyumnya menjadi lebih lebar.

“Wah, selamat ya, Fila. Sebentar lagi jadi Ny. Ardiansyah,” ujarku memberi selamat.

Fila tertawa sebentar, “Makasih, kak. But, it still a long way to be called Mrs. Ardiansyah,”

Aku terheran, “Loh kenapa memang? Kapan memang akadnya?”

Rian dengan mulut setengah penuh nasi goreng berusaha menjelaskan sebelum dipotong Fila, “Udah, kamu makan aja. Jadi, begini kak, memang acara lamarannya minggu depan tapi, setelah kami dan orang tua kami ketemu dua hari lalu, kami sepakat kalau akad dan resepsinya setelah aku lulus sarjana. Jadi, mungkin sekitar Maret atau April tahun depan. Masih enam bulan lagi,” jelas Fila yang mengingatkanku bahwa dia masih kuliah di fakultas ekonomi di Universitas Indonesia.

Well, apapun yang terbaik buat kalian berdua. Gue mendukung dari sini seratus persen,” ujarku sembari memberikan dua jempol ke arah layar laptop.

Rian yang sudah menghabiskan setengah piring nasi gorengnya, “Lo jangan cuma mendukung dari sana, dong. Datang ke sini. Sobat lo mau lamaran masa lo ngga datang.”

“Wah, kalo untuk minggu depan, gue ngga bisa datang karena urusan data tesis gue belum selesai. Tapi, gue janji bakal datang ke akad dan resepsi kalian nanti.”

“Oke lah, tidak apa-apa. Tapi, gue pegang janji lo, ya buat datang ke akad dan resepsi kita. Oh ya, ada satu hal lagi, lo bawa pasangan kek dari sana. Masa udah hampir dua tahun lo disana dan ngga ada satupun perempuan yang bisa lo pacarin.”

Raut wajahku langsung berubah ketika Rian mengatakan itu. Rian yang menangkap perubahan wajahku langsung mengambil smartphonenya dan mendekatkan wajahnya, “Listen to me, buddy. Kalau masih tentang dia, you have to move on. Masih banyak perempuan di luar sana yang lebih baik dari dia. Lo harus menatap ke depan. Itu juga buat kebaikan diri lo sendiri. Gue tahu lo paham apa yang gue bilang ini, karena ini udah kesekian kalinya gue bilang ini dan gue ngga akan pernah bosan sampai lo berubah,” ujarnya panjang lebar.

“Ingat, Bara. Move on,” tambahnya dan menekankan di kata move on.

Aku yang diceramahi dengan topik yang sama berulang kali olehnya hanya bisa mengangguk dan tersenyum kecil. “Iya iya. Thanks for the advice. Again. And once more congratulation for your proposal. I’m happy for both of you. Bye,” aku melambaikan tangan dan memutus video call itu.

Move on. Karena ucapan Rian itulah yang menyebabkan aku berdiri disini. Di atas jembatan ini, sembari melihat matahari yang mulai bersentuhan dengan garis cakrawala. Berusaha menenangkan pikiran atau melirik ke masa lalu. Entah salah satu dari dua itu. Suasana ini terasa tepat rasanya. Sampai ada suara seorang perempuan yang tidak jauh dariku muncul.

(bersambung…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s